Teknologi AI yang digunakan dokter untuk mencatat hasil konsultasi pasien ternyata masih rawan kesalahan. Beberapa kasus menunjukkan bahwa sistem ini bisa salah menyebut nama obat atau diagnosis penyakit, sehingga berpotensi membahayakan pasien.
Healthwatch England menemukan bahwa pasien sering kali mendeteksi kesalahan dalam transkrip yang justru terlewat oleh dokter. Salah satu contohnya adalah seorang wanita yang merasa sangat terguncang setelah ringkasan AI menyebutkan ia mengalami demyelination, padahal kondisi itu tidak sesuai dengan pembicaraan mereka.
Dalam dunia teknologi kesehatan, AI scribe bekerja dengan cara merekam percakapan lalu mengubahnya menjadi teks. Sistem ini mengandalkan model speech-to-text yang dilatih untuk mengenali istilah medis. Namun, variasi aksen, kecepatan bicara, atau istilah yang jarang digunakan bisa membuat hasilnya meleset.
Salah satu analisis tambahan adalah bahwa kesalahan semacam ini bisa memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap penerapan AI di sektor kesehatan secara lebih luas. Ketika pasien melihat bahwa teknologi yang seharusnya membantu justru menimbulkan kekhawatiran, adopsi alat serupa di klinik lain mungkin melambat.
Analisis kedua berkaitan dengan alur kerja dokter. AI scribe dirancang untuk mengurangi beban administratif agar dokter bisa lebih fokus pada pasien. Tapi jika dokter harus menghabiskan waktu ekstra untuk memeriksa ulang setiap transkrip, manfaat efisiensi yang dijanjikan menjadi berkurang.
Di sisi lain, penggunaan AI di konsultasi medis masih relatif baru di banyak tempat. Banyak dokter dan pasien belum terbiasa dengan keberadaan perangkat perekam yang terus aktif selama pemeriksaan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang privasi data rekaman suara yang disimpan di server perusahaan teknologi.
Kesalahan nama obat atau diagnosis bukan hanya masalah teknis, tapi juga bisa berdampak langsung pada pengobatan yang diberikan. Pasien yang menerima ringkasan keliru mungkin merasa cemas atau bahkan menolak pengobatan yang sebenarnya diperlukan.
Pengembang AI terus memperbaiki model mereka dengan menambahkan data medis yang lebih beragam. Namun, hingga sistem benar-benar andal, peran dokter dalam memverifikasi hasil tetap sangat penting. Pasien juga disarankan untuk membaca ringkasan konsultasi dengan teliti sebelum meninggalkan ruang periksa.
Secara keseluruhan, kasus ini menjadi pengingat bahwa teknologi AI di bidang kesehatan masih memerlukan pengawasan ketat. Kombinasi antara kemampuan mesin dan penilaian manusia tampaknya masih menjadi pendekatan paling aman untuk saat ini.






