Di tengah kemajuan pesat kecerdasan buatan, banyak orang mulai bertanya apakah mesin seperti ChatGPT benar-benar bisa merasakan sesuatu. Pertanyaan ini muncul karena AI sering tampil sangat cerdas dalam percakapan sehari-hari. Namun, pemikiran seperti ini justru menguatkan kecenderungan lama manusia yang lebih percaya pada pikiran daripada tubuh.
Istilah somatophobia menggambarkan keyakinan keliru bahwa kita lebih sebagai entitas berpikir ketimbang makhluk fisik yang hidup. Di era digital saat ini, ilusi tersebut semakin kuat karena AI tidak memerlukan bentuk jasmani untuk berinteraksi dengan kita. Banyak pengguna merasa seolah sedang berbicara dengan entitas yang sadar, padahal semuanya berasal dari pola data.
Salah satu latar belakang penting muncul dari pemikiran filsafat lama seperti dualisme Descartes yang memisahkan pikiran dari tubuh. Pemisahan ini terus memengaruhi cara pengembang teknologi merancang sistem AI modern. Akibatnya, fokus pengembangan lebih banyak diarahkan pada pemrosesan informasi daripada integrasi dengan sensor fisik atau gerakan nyata.
Dampaknya terlihat pada bidang kesehatan mental. Aplikasi meditasi dan pelacak kebugaran digital semakin populer karena orang mencari cara untuk kembali terhubung dengan sensasi tubuh mereka. Teknologi ini membantu pengguna menyadari napas, detak jantung, dan gerakan, sesuatu yang sering terabaikan saat kita terlalu larut dalam layar.
Selain itu, pengembangan robot humanoid seperti yang sedang dikerjakan beberapa perusahaan teknologi menunjukkan upaya untuk mengatasi keterbatasan AI berbasis teks saja. Robot-robot ini dirancang agar bisa berinteraksi secara fisik dengan lingkungan, sehingga kecerdasannya tidak hanya bersifat abstrak. Pendekatan ini bisa menjadi langkah awal untuk menyeimbangkan kembali antara pikiran dan tubuh dalam teknologi.
Survei terbaru menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga responden percaya alat seperti ChatGPT memiliki kesadaran dan perasaan. Angka ini mencerminkan betapa kuatnya pengaruh antarmuka digital terhadap persepsi kita. Padahal, tanpa tubuh yang bisa merasakan sakit, lapar, atau lelah, pengalaman hidup yang sebenarnya tidak mungkin terjadi.
Masyarakat perlu lebih kritis melihat bagaimana AI membentuk pandangan kita tentang kehidupan. Alih-alih hanya mengejar kecerdasan murni, penting untuk mempertimbangkan bagaimana teknologi bisa mendukung pengalaman jasmani yang utuh. Misalnya, perangkat wearable yang tidak hanya mengumpulkan data tapi juga mendorong interaksi fisik langsung dengan dunia nyata.
Dengan semakin banyaknya orang yang menghabiskan waktu di dunia virtual, risiko mengabaikan tubuh semakin besar. Olahraga, tidur yang cukup, dan kontak langsung dengan orang lain menjadi hal yang semakin sulit dipertahankan. Teknologi seharusnya membantu kita merawat tubuh, bukan membuat kita semakin jauh darinya.
Pada akhirnya, memahami apa artinya hidup tidak cukup hanya dengan melihat output algoritma. Kita perlu kembali menyadari bahwa setiap pengalaman bermakna selalu melibatkan tubuh yang bergerak, merasakan, dan berinteraksi dengan lingkungan fisik di sekitarnya.
