Sebagai ibu dari dua anak, Kendal Archer mengaku sering bingung menghadapi pilihan sehari-hari soal makanan. Apakah harus memilih botol kaca untuk susu non-organik atau botol plastik untuk susu organik? Atau brokoli organik yang dibungkus plastik versus brokoli biasa tanpa plastik? Pilihan-pilihan ini muncul setelah ia membaca laporan tentang paparan prenatal dan awal kehidupan terhadap PFAS yang dikaitkan dengan peradangan usus pada anak-anak.
PFAS atau per- and polyfluoroalkyl substances dikenal sebagai bahan kimia abadi karena sulit terurai di lingkungan dan tubuh manusia. Paparan dini terhadap zat ini dikaitkan dengan risiko peradangan usus yang lebih tinggi, yang berpotensi berkaitan dengan kanker kolorektal di kemudian hari. Namun, Archer menekankan bahwa tanggung jawab untuk menghindari paparan ini tidak seharusnya jatuh sepenuhnya pada orang tua.
Pemerintah seharusnya mengambil peran lebih besar melalui regulasi yang ketat, sementara perusahaan pertanian besar perlu menghentikan praktik yang menutupi makanan dengan bahan kimia semacam ini. Beban finansial dan mental untuk terus memilih produk yang lebih aman justru menambah stres bagi keluarga.
Dalam konteks teknologi, PFAS juga banyak digunakan pada pelapis perangkat elektronik seperti ponsel dan laptop untuk sifat tahan air. Ini menambah lapisan kompleksitas karena paparan bisa datang dari berbagai sumber sehari-hari, bukan hanya makanan.
Selain itu, teknologi sensor untuk mendeteksi PFAS di lingkungan masih dalam tahap pengembangan dan belum terjangkau untuk penggunaan rumah tangga secara luas. Hal ini membuat upaya menghindari paparan semakin sulit bagi orang biasa tanpa dukungan kebijakan yang lebih baik.
Archer berharap ada perubahan sistemik agar generasi mendatang tidak perlu terus-menerus berhadapan dengan dilema serupa. Fokus pada regulasi dan inovasi industri akan lebih efektif daripada menyerahkan semua tanggung jawab kepada individu.
