Dokter Mesir yang Hilang Lisensi tapi Video Kesehatannya Tetap Menyebar

0 0
Read Time:1 Minute, 52 Second

Di tengah maraknya video kesehatan di media sosial, banyak orang mulai mencari alternatif selain pengobatan konvensional. Salah satu nama yang sering muncul adalah Diaa al-Awadi, seorang dokter Mesir yang mengklaim insulin adalah penipuan, merokok aman, dan kemoterapi tidak berguna. Ia mendorong perubahan pola makan agar tubuh sembuh sendiri sambil mengutip ayat Al-Quran.

Fatima Adel, seorang penulis berusia 50 tahun yang tinggal di kawasan Sheikh Zayed, Kairo, sempat kehilangan kepercayaan pada dokter setelah mengalami salah diagnosis berulang. Saat video al-Awadi beredar luas, ia dan puluhan ribu warga Mesir lainnya mulai memperhatikan. Gaya bicara al-Awadi yang lugas dan dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat pesannya mudah diterima.

Al-Awadi akhirnya kehilangan izin praktik medis karena klaim-klaimnya yang dianggap berbahaya. Meski demikian, pengaruhnya tidak hilang begitu saja. Bahkan setelah ia meninggal di usia relatif muda, video-video lamanya terus diputar dan dibagikan.

Dalam konteks teknologi informasi, penyebaran konten seperti ini menunjukkan bagaimana algoritma platform video mempercepat jangkauan pesan kesehatan tanpa melalui proses verifikasi medis. Video pendek yang mudah dibagikan memungkinkan narasi alternatif tumbuh cepat di kalangan pengguna yang sudah skeptis terhadap sistem kesehatan formal.

Selain itu, larangan resmi justru menciptakan efek pahlawan di kalangan pengikut. Ketika seseorang dilarang, cerita tentang perlawanan terhadap otoritas medis sering kali menjadi daya tarik tambahan di ruang digital. Hal ini terlihat dari meningkatnya interaksi terhadap video-video al-Awadi setelah berita larangan tersebar.

Bagi sebagian masyarakat Mesir yang mengalami kesulitan mengakses layanan kesehatan berkualitas, pendekatan sederhana berbasis diet terdengar lebih masuk akal dibandingkan pengobatan mahal. Video yang menggabungkan unsur agama dan nasihat praktis ini memberikan rasa kontrol kepada penonton atas kesehatan mereka sendiri.

Namun, klaim bahwa tubuh bisa sembuh hanya dengan mengubah menu makan tanpa pengawasan medis tetap berisiko. Kasus seperti al-Awadi mengingatkan bahwa di era di mana siapa pun bisa membuat dan menyebarkan konten kesehatan, kemampuan membedakan informasi yang valid menjadi semakin penting.

Perkembangan ini juga mencerminkan bagaimana teknologi digital mengubah cara masyarakat mencari dan mempercayai nasihat medis. Alih-alih bergantung pada konsultasi langsung, banyak orang kini mengandalkan konten yang mudah diakses di ponsel mereka.

Meski al-Awadi sudah tiada, jejak digitalnya terus hidup dan memengaruhi cara pandang sebagian orang terhadap pengobatan. Fenomena ini menegaskan pentingnya literasi digital dan kesehatan di tengah arus informasi yang deras.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Related posts