Survei terbaru dari Royal College of Emergency Medicine menunjukkan bahwa hampir tiga perempat staf di unit gawat darurat Inggris mengalami kekerasan atau agresi setiap hari atau setiap minggu. Kondisi ini membuat pelecehan terhadap tenaga medis terasa seperti bagian biasa dari pekerjaan di garis depan rumah sakit.
Penyebab utamanya disebutkan berasal dari waktu tunggu yang lama serta ruang yang penuh sesak. Pasien dan keluarga yang frustrasi sering melampiaskan emosi kepada staf yang sebenarnya sudah kewalahan. Royal College of Emergency Medicine menegaskan bahwa kekurangan tenaga dan overcrowding di departemen darurat semakin memperburuk situasi ini.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh staf secara langsung. Tekanan berulang seperti ini bisa menurunkan semangat kerja dan membuat banyak tenaga kesehatan mempertimbangkan untuk pindah bidang atau bahkan keluar dari profesi medis. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memperparah kekurangan staf yang sudah terjadi.
Selain itu, lingkungan kerja yang tidak aman juga memengaruhi kualitas pelayanan pasien. Ketika staf harus terus-menerus waspada terhadap kemungkinan agresi, fokus mereka terhadap penanganan medis bisa terganggu. Beberapa rumah sakit mulai mencoba pendekatan berbeda seperti penambahan petugas keamanan atau pelatihan de-eskalasi, meski hasilnya masih bervariasi.
Kondisi ini mencerminkan tekanan sistemik yang lebih luas pada layanan kesehatan darurat. Overcrowding sering kali berawal dari keterbatasan kapasitas di bagian lain rumah sakit, sehingga pasien yang seharusnya dirawat di bangsal justru menumpuk di IGD. Upaya perbaikan yang hanya fokus pada satu sisi saja kemungkinan tidak akan cukup untuk mengurangi insiden kekerasan secara signifikan.
Staf yang bekerja di lingkungan seperti ini membutuhkan dukungan lebih dari sekadar ucapan terima kasih. Perlindungan fisik, dukungan psikologis, serta perbaikan alur pelayanan menjadi hal yang perlu diperhatikan agar situasi tidak terus berulang.






