Laporan terbaru dari lima badan PBB mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan soal akses makanan sehat secara global. Meski angka kelaparan dunia berhasil turun selama tiga tahun berturut-turut hingga 2025, satu dari tiga orang atau setara 2,69 miliar jiwa masih tidak mampu membeli makanan yang memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi harian mereka.
Biaya buah, sayur, dan produk susu menjadi penghalang utama. Banyak keluarga di berbagai negara terpaksa memilih makanan yang lebih murah tapi kurang bergizi karena anggaran terbatas. Para ahli menekankan bahwa tanpa upaya serius menekan harga-harga tersebut, target zero hunger pada 2030 akan sangat sulit tercapai.
Situasi ini juga berdampak pada produktivitas jangka panjang masyarakat. Orang yang tidak mendapat nutrisi cukup cenderung lebih rentan terhadap penyakit dan kesulitan fokus dalam aktivitas sehari-hari, termasuk pekerjaan yang melibatkan teknologi digital.
Selain itu, laporan ini menyoroti perlunya perbaikan sistem distribusi pangan yang lebih efisien. Teknologi seperti platform data harga pasar secara real-time dan aplikasi pertanian presisi berpotensi membantu petani serta distributor menekan biaya tanpa mengurangi kualitas.
Pencapaian penurunan kelaparan tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa intervensi yang tepat bisa membawa perubahan. Namun skala tantangan yang dihadapi saat ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemanfaatan inovasi teknologi untuk memperluas akses pangan bergizi ke lebih banyak orang.
