Pengalaman Bidan soal Kekurangan Masker dan Alat Pelindung saat Pandemi

0 0
Read Time:1 Minute, 0 Second

Seorang bidan bernama Laura Matthews masih menyimpan amarah mendalam terhadap penanganan pandemi Covid-19 di Inggris. Ia mengingat betapa takutnya bekerja tanpa perlindungan memadai di garis depan.

Saat itu, Laura sempat dicoba pasang masker FFP3 yang seharusnya melindungi dari partikel kecil. Namun stoknya habis, sehingga ia hanya diberi masker kertas biasa yang jauh dari cukup. Situasi ini membuatnya merasa rentan setiap hari menghadapi pasien.

Selain masker, masalah juga muncul pada seragam. Rumah sakit tempatnya bekerja tak lagi menyediakan scrub bersih setiap hari. Laura dan rekan-rekannya harus membawa pulang seragam yang mungkin terkontaminasi untuk dicuci sendiri di rumah.

Manajemen sempat mematikan komputer untuk menjaga jarak sosial, tapi keputusan itu langsung dibatalkan karena komputer sangat dibutuhkan untuk pekerjaan sehari-hari. Hal ini menunjukkan betapa kacau perencanaan di tengah krisis.

Dampaknya, banyak tenaga kesehatan mengalami stres berkepanjangan karena merasa tidak didukung sistem yang ada. Kepercayaan terhadap pengadaan alat kesehatan pun ikut menurun.

Dari sisi lain, insiden ini juga menggarisbawahi pentingnya teknologi rantai pasok yang lebih tangguh. Tanpa sistem pelacakan stok digital yang baik, kekurangan masker dan perlengkapan lain bisa terulang di masa depan.

Laura berharap temuan inquiry Covid bisa menjadi pelajaran agar fasilitas kesehatan selalu siap menghadapi wabah berikutnya dengan perlindungan yang memadai.

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %

Related posts