Novo Nordisk baru saja menggugat rivalnya Eli Lilly karena iklan yang dianggap penuh klaim menyesatkan soal obat penurun berat badan. Perusahaan Denmark ini bilang Eli Lilly sengaja pakai data lama dari uji klinis untuk bikin produk mereka seperti Zepbound dan Mounjaro kelihatan jauh lebih ampuh dibanding Ozempic.
Dalam gugatan yang diajukan Selasa lalu, Novo Nordisk menyebut Eli Lilly memilih studi lama yang membandingkan dosis tertinggi obat mereka dengan dosis rendah dari obat Novo. Hal ini bikin perbandingan jadi tidak adil dan berpotensi membingungkan dokter serta pasien.
Dari sisi teknologi pemasaran, kasus ini menarik karena iklan farmasi kini banyak beredar di platform digital. Perusahaan bisa memilih data secara selektif untuk tayang di media sosial atau situs kesehatan, sesuatu yang jarang diawasi ketat.
Salah satu analisis penting adalah dampaknya terhadap kepercayaan konsumen. Pasien yang mencari pengobatan diabetes tipe 2 atau obesitas lewat iklan online mungkin salah memilih obat hanya karena visual dan klaim yang terlihat lebih bagus, padahal data yang dipakai sudah kedaluwarsa.
Konteks lain yang perlu diperhatikan adalah persaingan ketat di pasar obat GLP-1. Kedua perusahaan sama-sama mengembangkan teknologi molekul yang mirip, sehingga perang iklan ini bisa memengaruhi bagaimana inovasi farmasi dipresentasikan ke publik di masa depan.
Gugatan ini juga menyoroti pentingnya transparansi data klinis di era digital. Ketika iklan bisa diatur algoritma untuk menargetkan kelompok usia tertentu, risiko misinformasi jadi lebih tinggi jika perusahaan tidak jujur soal perbandingan hasil uji coba.
Bagi industri secara keseluruhan, kasus Novo versus Eli Lilly bisa jadi preseden bagaimana regulator mengawasi iklan obat yang beredar di internet dan aplikasi kesehatan. Tanpa pengawasan ketat, persaingan semacam ini berpotensi merugikan pasien yang hanya mengandalkan informasi dari layar gadget mereka.
